Kelu Kemerdekaan #SweetSeventy di Minangkabau Sumatera Barat

Kami telah melakukan kewajiban kami mengembalikan kemerdekaan indonesia

Sekarang :

Lidah kami telah kaku
Telinga kami telah pekak
Mata kami telah buta
Tulang kami telah berserakan

Terimalah pesan kami

Teruskan perjuangan kami
Sampai keakhir zaman
Untuk menciptakan satu masyarakat
Yang adil dan makmur

Bebas dari kehinaan
Bebas dari kemelaratan
Bebas dari kemiskinan

Terimalah lambang ini sebagai persada hati kami

Pejuang revolusi 1945

Baris-baris tulisan ini membuat saya “merinding” ketika kata per kata saya cermati dengan seksama. Pesan pendahulu Republik ini terpampang nyata disalah satu dinding bangunan yang cukup usang seolah tidak diindahkan lagi oleh khalayak banyak berdampingan tidak seberapa jauh dari salah satu tugu peringatannya.

Ya, bangunan itu adalah Kantor PDRI ( Pemerintah Darurat Republik Indonesia ) yang juga sudah disematkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh bangsa ini.

A photo posted by Yudhie (@yudhieq) on

Berjarak kurang lebih 40 Km dari Pusat Kota Payakumbuh atau sekitar 25 Km dari kampung kami Jorong Kuranji Lima Puluh Kota menuju Koto Tinggi yang memang letaknya di perbukitan. Saya memang sengaja untuk mengajak isteri dan anak-anak saya untuk mengetahui bahwa negeri yang besar ini dari Sabang dari Merauke pernah memiliki Pusat Pemerintahan di Koto Tinggi Sumatera Barat dan seorang berdarah Minangkabau Syafruddin Prawiranegara yang pernah memimpin negeri ini dalam rentang waktu tahun 1948 -1949 ketika Belanda merasa tidak “ikhlas” memberikan kemerdekaan kepada Republik ini. Semakin merinding saya dibuatnya ketika saya membaca kutipan literatur pidato yang pernah diucapkan Syafruddin Prawiranegara

“Negara RI tidak tergantung kepada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah tumbuh hilang berganti. Kepada seluruh Angkatan Perang Negara RI kami serukan: Bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh.”

Semangat saya yang awalnya saat berapi-api ketika kembali dari Tugu Koto Tinggi ini, namun agak sedikit padam ketika di tengah perjalanan melihat penjual BBM Pertamini yang seakan-akan bagian dari perusahaan besar sekelas Pertamina. Berpikir dalam hati ini kelu, apakah sebegitu miskin negeri yang akan menginjak umurnya #SweetSeventy ini sampai-sampai rakyat harus menyediakan pasokan bahan bakarnya sendiri tanpa adanya SPBU yang berjarak tidak kurang dari 25 km, sementara di Ibukota dan kota-kota besar lainnya “berserak-serakan”.  Pertamini-Pertamina Tidak mau berlama-lama dengan kelu kesah negeri ini, saya harus tetap bersemangat berpikir bahwa negeri ini punya “sesuatu” yang masih bisa kita harapkan dan banggakan. Negeri ini masih punya alam yang bisa membuat bola-bola mata kita segar dan berbinar ketika melihatnya, negeri ini masih punya udara segar untuk kita hirup, negeri ini masih budaya & martabat di mata orang-orang di negeri lain dan tentunya negeri ini masih punya penerus Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin dan pahlawan lainnya yang masih tetap berkobar-kobar untuk menjaga negeri ini baik dengan bercerita seperti yang dilakukan www.hikayatbanda.com dan www.daenggassing.com ataupun dengan cara lainnya. Lembah Harau Lembah Harau Payakumbuh Istana Basa Pagaruyung Sampan-Lembah-Harau Tidak kurang dari 120-an Km hari itu perjalanan saya, isteri dan anak-anak di provinsi yang beribukota Padang ini dari mulai Payakumbuh – Istana Basa Pagaruyung Tanah Datar melewati Batu Sangkar – Sawah Lunto melewati Nagari Talawi Sijunjung sambil mencicipi nikmatnya Semangka langsung dari kebunnya dan berakhir di Danau Singkarak Solok melalui Ombilin, dan perjalanan ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak saya agar mereka bisa menceritakan asal usul budaya mereka ke anak cucu generasi berikutnya. Peta Sumbar

A photo posted by Yudhie (@yudhieq) on

Istana-Pagaruyung-Sumbar

Masjid Quba Tanah Datar

Sawah Lunto

Kebun Semangka Talawi

Perjalanan liburan keluarga di Alam Takambang ini tentunya di tutup dengan menikmati aroma Kopi Solok di Bukittinggi dan bersiap kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kemerdekaan negeri ini. Bagaimana dengan kamu? 🙂

Bandara International Minangkabau

Jam Gadang

Bendi Jam Gadang

Semilir Elegan di Basko Hotel Padang

Setelah mendapatkan cuti yang tidak terlalu lama yakni dua hari saya memutuskan untuk berangkat ke Ranah Minangkabau dengan tiket pesawat jakarta ke padang. Sesampainya di “Nagari Takambang” dan memutuskan untuk menginap Hotel di Padang yang jaraknya tidak jauh dari Bandara International Minangkabau sesuai informasi yang saya dapatkan. Dari kejauhan sudah tampak icon Basko Hotel ini dengan padanan lima bintang terang di bawahnya.

Sekilas "terkikik" dalam hati apa maksud si empunya menyematkan nama Basko, apakah memang si empunya sangat hobi sekali dengan bakso sehingganya dinamakan demikian ataukah si empunya selain dari pemilik hotel juga memiliki bisnis bakso :)

Sampai di depan hotel saya berencana tidak langsung check-in namun saya sengaja berjalan di sekitar hotel yang memang di jam itu masih ramai dengan pengunjung Mall yang “bersliweran“.

pantai padang
Muara Pantai Padang

Setelah cukup lama saya “bercengkrama” dengan tiupan angin pantai saya berencana untuk bergegas check-in kedalam hotel namun tetap saya penasaran dengan keramaian yang sebelumnya sempat saya lihat dan ternyata Hotel Basko ini berdampingan dengan Basko Grand Mall dan saya coba browsing di Google dan ketemu www.baskograndmall.com. Semakin penasaran saja saya siapa si empunya yang “semau-maunya” memberikan nama hotel sebesar ini hampir mirip dengan jajanan Bakso 🙂

padang mall
Basko Grand Mall Padang

Melangkah ke lobby mata saya cukup terpesona dengan konsep elegan yang diterapkan si hotel yang berada di luar jakarta ini. Berjalan dari pelataran depan sekilas saya melihat hotel ini mirip dengan miniaturnya Hotel Mulia Jakarta.

Basko Hotel Padang
Lobby Basko Hotel Padang

Bergegas setelah mendapatkan kamar dari Front Officernya dan menanyakan tentang arti nama Basko yang singkatan dari Basrizal Koto si empunya Hotel dan Mall di sebelah, saya langsung kearah lift menuju kamar. Melintasi lorong yang bersih  ketika membuka pintu dengan keycard, wow sesuai dengan informasi yang saya dapatkan sebelum saya memutuskan untuk menginap di hotel ini.

basko hotel padang

Setelah cukup segar dan tentunya bersih-bersih setelah perjalanan jauh dari jakarta saya turun ke bawah untuk sekedar minum kopi di Lounge dan terpikir untuk ambil foto dari Roof Top dan bisa jadi dokumentasi yang memuaskan. Dan hal ini saya lanjutkan di esok pagi harinya sebelum saya berangkat ke Jorong Kuranji Payakumbuh

Minangkabau

Meskipun hanya satu malam di Basko Hotel Padang, sepertinya kedepannya saya akan mencoba kembali “menjajal” Hotel Murah di Padang Minangkabau ini atau bahkan hotel-hotel lainnya yang saya rasa juga memiliki konsep yang bagus dan tentunya juga mengajak anak-anak saya tour ke padang juga.

All images capture with Microsoft Lumia 535